Kisah Dibalik Pembuatan Ayat-Ayat Cinta

Inilah curahan hati mas Hanung Bramantyo
tentang film Ayat-Ayat Cinta, berikut
alasan kenapa penayangannya selalu tertunda
(kabar terakhir, premiere film Ayat-Ayat
Cinta jatuh pd tgl 28 Februari ini)…
diambil dari blognya mas Hanung
sendiri… (ya iya lah, masa berdua ?)….

Aku mulai sadar bahwa tidak mudah
membuat film agama. Itulah kenapa ibuku
dulu berpesan kalau kamu sudah bisa
membuat film, buatlah film tentang
agamamu: Islam. Awalnya aku cuma
tersenyum mendengar kata-kata ibuku.
Senyum yang menyangsikan. Sebab pada
waktu itu buatku film agama tidak lebih
dari sekedar petuah-petuah yang
membosankan. Lelaki berpeci dengan baju
koko, bertasbih, kadang berewokan,
mulutnya nerocos soal ayat dengan cara
menghadap kamera. Membuat dirinya tampak
suci dengan mengumbar ayat-ayat Quran.
Ah, tidak terbayang olehku sebuah film
agama. Tapi aku tidak begitu saja lantas
menyerah. Aku coba berangkat dari apa
yang aku kenal: Muhammadiyah. Lalu
merentet ke sebuah nama: Ahmad Dahlan.
Hmm, aku memang menyukai film yang
mengangkat satu tokoh: Gandhi, Erin
Brokovich, Henry V, Shakespeare, Baghad
Sigh, Malcom X, dan mungkin juga nanti
Sukarno (kalau memang jadi difilmkan
oleh Hollywood). Film yang mengangkat
tokoh bisa membuat penonton bercermin.
Dan Agama adalah cermin bagi manusia
untuk senantiasa melihat kembali
dirinya: Kotor atau bersih?
Lalu aku membuat proposal Ahmad Dahlan
untuk aku tawarkan ke PP Muhammadiyah.
Ditolak! Muhammadiyah tidak ada uang,
katanya . Aku cuma bengong saja. Tidak
ada uang? Kataku dalam hati. Ah,
sudahlah. Mungkin waktu itu aku belom
dipercaya. maklum masih kuliah di IKJ
semester Akhir.
Lalu kutinggalkan itikadku membuat film
Agama. Aku terjun membuat film Cinta:
Brownies, Catatan Akhir Sekolah, Jomblo,
dsb … dsb … Tapi aku tetap yakin
bahwa suatu saat akan datang masa aku
membuat film tentang agama.
Alhamdulillah, benar. MD Entertainment
menawari membuat Film Ayat-Ayat Cinta (AAC).
‘Kenapa anda membuat film ini?’ Tanyaku
‘Sederhana. Pertama, Ini film dari Novel
best seller. Kedua, penduduk indonesia
80 persen muslim. Kenapa saya tidak
membuat film tentang mereka? Kalau saya
minta 1 persen dari 80 persen masak
tidak bisa.’
1% dari 80% penduduk muslim Indonesia
berarti sekitar 2 juta penonton.
dikalikan 10 ribu per tiket. Berarti
pendapatan kotor 20 milyar. Kalau bujet
produksinya 10 milyar, keuntungan yang
didapat 10 milyar.
Aku jadi berfikir, kenapa Muhammadiyah
tidak berfikiran begitu ya? Kalau cuma
mengumpulkan 2 juta penonton, masa
Muhammadiyah tidak sanggup? Bukankah
dari 80% tersebut 40% adalah warga
Muhammadiyah? Ah, dasar stupid pikirku.
Banyak orang Islam tidfak berfikir luas
seperti orang-orang Yahudi. Oleh sebab
itu Islam selalu dimarjinalkan, mudah
diadu domba, dibohongi … diakali.
Lalu aku mulai memasuki tahap persiapan
dan riset.
Wallohu … Aku melihat islam dari dekat
sekali. Sangat dekat. Di Kairo, aku
menatap Menara Azhar, aku menyentuh
dinding dan lantai Azhar university, aku
mencium bau apek baju-baju dan karpet
mahasiswa Alzhar tetapi memiliki roman
muka bersih dan santun. Aku melihat
keikhlasan mereka saat bersujud diatas
sajadah buluk. Bibir mereka pecah-pecah
oleh panas sekaligus dingin hawa Kairo,
tetapi dibalik bibir pecah itu terlantun
dzikir panjang menyebut: Alloh … Alloh …
Lalu aku melihat seorang syaih duduk
bersila dihadapan murid-muridnya.
‘Tallaqi’ mereka menyebutnya. Aku
mendengar seorang melantunkan ayat-ayat
Al quran di sudut masjid. Dan juga di
pinggiran jalan. Seolah quran bagaikan
bacaan novel. Allohu Akbar … Allohu
Akbar. Inikah caramu membuatku dekat
dengan agamaku, Ibu?
Darahku menggelora membuat mataku
terbelalak. Islam sangat indah. Islam
sangat eksotis. Tapi orang-orang islam
seperti tidak mengerti semua itu.
Orang-orang Islam di Jakarta lebih
memilih jalan-jalan ke eropa daripada ke
Kairo.’Saya akan membuat film ini eksotis,
pak’ begitu kata saya ke producer.
Dan mulailah persiapan dimulai.
Semangatku menggelora. Aku baca
buku-buku tentang Fiqih dan sunnah. Aku
libatkan mahasiswa Al Azhar untuk
mendampingiku. Aku sangat hati-hati
sekali melakukan ini agar apa yang
tertulis dalam novel dengan indah pula
tersampaikan lewat gambar. Sebuah film
yang lembut, yang indah, yang suci
tergambar di depan mataku dan aku yakin
sekali bisa mewujudkannya.
Namun semua impianku itu tidak begitu
saja mudah diwujudkan.
Pertama kali berita tentang pembuatan
film AAC tersebar, halangan pertama
datang justru dari pembaca. Diantara
banyak yang berharap, mereka juga
menyangsikan, sinis, dan mencemooh.
Bahkan ada yang bilang : ‘Wah, sayang
sekali novel sebagus ini akan difilmkan.
Jadi ill Feel, deh’. ada juga yang
bilang ‘Tidak pernah aku lihat Novel
yang di filmkan hasilnya bagus,
sekalipun Harry Potter. Apalagi ini.’
Pada suatu hari ada sekelompok orang
datang ke kantor MD, mereka bilang dari
organisasi Islam. Mereka datang dengan
membawa seorang lelaki berwajah putih
dan seorang gadis berjilbab. Mereka
bilang …
‘Ini calon pemain Fahri dan ini calon
pemain Aisha’ sambil menunjuk ke lelaki
berwajah putih dan gadis berjilbab itu.
‘Kami dari organisasi Islam’ lanjutnya
‘Kami sangat concern terhadap dakwah
islamiah. Kami tidak ingin film
Ayat-Ayat Cinta melenceng dari novel dan
ajaran Islam. Kang Abik (Nama panggilan
Habiburrahman El Shirasy) sudah tahu
tentang ini.’
Kami hanya saling pandang dan tersenyum.
Aku … malu sekali.
Tentu saja kami menolaknya. Kami tahu
bahwa film ini harus dibuat dengan
hati-hati sekali. Kami juga tidak begitu
saja memilih pemain hanya semata-mata
ganteng dan ‘menjual’. Karena itu kami
menggandeng ketua PP Muhammadiyah Din
Syamsudin sebagai penasehat kami.
Sebelum aku melakukan casting, aku
berdiskusi dulu dengan kang Abik. Kang
abik sangat concern dengan sosok Fahri.
Dia harus turut serta memilih tokoh
Fahri. Semula kami membuka casting di
pesantren-pesantren. Tetapi hasilnya
Nol. Bukan berarti para santri tidak ada
yang ganteng dan pintar seperti fahri.
Tetapi banyak diantara mereka sudah
menganggap ‘Film’ adalah produk sekuler.
Oleh sebab itu banyak diantara mereka
tidak mau ikut casting. Saya pernah
membaca satu hadist, jangankan membuat
film, menggambar manusia saja hukumnya
Haram. Nanti di Neraka hasil gambar yang
kita buat harus kita hidupkan. Kalau
tidak bisa, Malaikat Jibril akan
mencambuk kita dengan cambuk api.
Kami melakukan casting lebih dari 5
bulan. Semua yang ikut casting adalah
pemain-pemain terkenal. Tapi diantara
mereka banyak terjebak pada tuntutan
atas ‘Kesucian Fahri’. Banyak diantara
mereka beracting ‘sok suci’ dengan
melantunkan ayat-ayat dan menyebut asma
Alloh dengan berlebihan, mirip seperti
ustadz-ustadz di TV-TV. Pernah aku
menemukan seorang yang menurutku pas
bermain sebagai Fahri. Tetapi lelaki itu
tidak beragama Islam. Kang Abik tidak
setuju. Lalu ditengah keputusasaan kami
datang seorang lelaki. Ganteng, tetapi
tidak sombong (tidak merasa dirinya
ganteng). Sering kita lihat di Mal-Mal,
banyak lelaki pesolek, sadar sekali
bahwa dirinya ganteng. Tetapi lelaki ini
tidak . Dia sangat santun. Bahasanya pun
santun. Ketika berucap Alloh, dia
agak-agak canggung. Bahkan tidak fasih
seperti ustadz. Pada saat dia sholat aku
melihat gerakannya jauh dari sempurna.
Tetapi lelaki itu punya mata yang
didalamnya mengandung semangat belajar.
Dia adalah Fedi Nuril. Aku berdiskusi
dengan kang Abik. Terjadi tarik ulur dan
perdebatan panjang. Akhirnya kita
sepakat memutuskan dia yang main sebagai
Fahri. Alasanku adalah, Fahri bukan
lelaki sempurna. Tapi yang membuat Fahri
tampak sempurna karena dia sadar bahwa
dirinya tidak sempurna. Keputusan Fedi
Nuril sebagai Fahripun mengundang banyak
kesangsian di kalangan pembaca fanatik
AAC, terutama di Malaysia. Karena film
Fedi Nuril sebelumnya menampilkan Fedi
ciuman dengan perempuan bukan muhrim.
Fedi pun mengakui itu. Yang membuat aku
terharu, Fedi menganggap film AAC
sebagai media dia buat dekat dengan
Islam. Belajar kembali tentang Islam.
Karena film ini, Fedi jadi rajin
membuka-buka lagi buku tentang Islam.
Bahkan Fedi menyadari segala tingkah
lakunya yang tidak Islami selama ini
setelah memerankan Fahri. Sungguh, baru
kali ini aku rasakan dampak film yang
begitu besar mempengaruhi keimanan
seseorang. Terima kasih kang abik.
terima kasih Ibu.
Pada saat kami mencari sosok Aisha dan
Maria, semula kami bersepakat untuk
mencari pemain Mesir. Tetapi setelah
kami melakukan riset disana, sangat
mengagetkan. Perempuan-perempuan Mesir
lebih tua dari umurnya. Aku mengcasting
seorang perempuan mesir bernama Roughda
untuk berperan sebagai Aisha. Tidak
hanya cantik, tetapi mainnya luar biasa.
Tetapi setelah di sejajarkan dengan
Fahri, terlihat Roughda lebih pas
sebagai kakaknya daripada isteri Fahri.
Padahal umurnya lebih muda 3 tahun dari
Fedi Nuril. Lalu kami mencari pemain
dengan umur 8 tahun lebih muda dari
Fedi. Pada saat kami sejajarkan, sangat
pas. Tetapi disaat dia berdialog tentang
perkawinan, tidak bisa dipungkiri
‘kedewasaannya’ tidak tampak. Alias
belum matang. Kami bingung dan akhirnya
kami sepakat untuk mencari pemain
indonesia saja.
Tidak gampang mencari pemain indonesia
yang cantik sekaligus solihah. Pak Din
Syamsudin berpesan kalau bisa pemain
Aisha kesehariannya ber jilbab. Lihatlah
siapa artis kita yang bertampang Bule
yang seperti itu. Hanya Zaskia Meca saja
yang berjilbab dan cantik. Selebihnya
tidak ada. Sementara itu Zascia tidak
bertampang bule. Dia sangat sunda.
Pernah kita meng casting Nadine
Candrawinata. Dia sangat cantik dan
bermain bagus. Dangat cocok pula
berdampingan dengan Fedi Nuril. Tapi
Nadine bukan Muslim. Padahal Nadine
sudah mau bermain sebagai perempuan
Muslim. Aku pernah berdiskusi panjang
dengan kang abik soal itu. Aku bilang
padanya …
‘Suatu hal yang unik, ketika tokoh Maria
yang kristen dimainkan oleh seorang
muslim, sementara tokoh Aisha yang Islam
dimainkan seorang kristen. Ini akan
memperlihatkan sikap toleransi dan
demokratisasi dalam Islam seperti di India.’
Tetapi kang abik dan pak Din Syamsudin
menyarankan untuk jangan bertaruh
terlalu besar di film ini. Masyarakat
Islam di Indonesia berbeda dengan India.
Di India, masyarakat moslem dan Non
Moslem sudah terdidik tingkat kedewasaan
dalam toleransi, sementara di Indonesia
belum. Akhirnya dipilihlah Ryanti
sebagai Aisha dan Carrisa Putri sebagai
Maria.
Ketiga pemain itu dikursuskan bahasa
arab secara privat untuk mendalami
kehidupan Muslim di kairo. Mereka sangat
antusias. Namun antusiasme itu harus
berhadapan dengan kenyataan bahwa mereka
juga punya kesibukan lainnya. Ryanti
sebagai VJ di MTV dan Carrisa bermain
sinetron. Ryanti yang bagiku sangat
keteter ketika berperan sebagai Aisha.
Asiha adalah sosok yang memiliki beban
berat. Sementara Ryanti sebagai VJ MTV
harus selalu tampak riang dan ringan.
Sering sekali benturan itu membuat
proses pendalaman karakter tidak
sempurna. Aku frustasi sendiri. Tetapi
aku ingat, bahwa di Film ini kesabaranku
benar-benar di uji. Impianku mewujudkan
keindahan dan kedalaman Islam terbentur
oleh kenyataan sebaliknya: Ringan,
Riang, Hedonistik dan Pop. Apalagi
ketika producer tiba-tiba berubah
pikiran melihat kenyataan penonton Film
Indonesia banyak di dominasi anak-anak
muda yang pop, ringan dan tidak menyukai
hal-hal bersifat perenungan. Dia lantas
ingin mengubah karakterr film AAC
menjadi sangat pop seperti Kuch Kuch
Hotahai … Tuhanku! Tuhanku! selamatkan
film ini …
Tidak jarang aku berperang mulut dengan
producerku ketika meminta adegan Talaqi
dibuang. Karena boring dan membuat
penonton mengantuk. Lalu beberapa adegan
yang bersifat perenungan, seperti pada
saat Fahri dipenjara dan menemukan
hakikat kesabaran dan keikhlasan dari
seorang penghuni penjara yang absurd
(dalam novel digambarkan sebagai seorang
professor agama bernama Abdul Rauf),
Tetapi di Film saya adaptasi sebagai
sosok imajinatif, bergaya liar, bermuka
buruk tetapi memiliki hati bersih dan
suara yang sangat tajam melafatskan
kebenaran. Semua adegan itu diminta
untuk dibuang atau dikurangi dan lebih
mementingkan adegan romans seperti AADC
ataupun Kuch Kuch Hotahai …
Sabar … Sabar … Ikhlas … ikhlas!!!
begitulah yang aku dapatkan di film ini.
Film ini tidak hanya mampu merobah
pandanganku tentang Film. Film ini mampu
dan sudah merobah pandangan hidupku:
tentang agama, kesetiaan, kerjakeras,
komitmen, dan … cinta. Berkali-kali
aku berucap syukur yang besar kepada
Tuhanku yang sudah memberikan aku jalan
menuju kedewasaan. Berkali-kali aku
berucap terima kasih kepada Kang Abik
yang sudah secara tak langsung
mempercayaiku menyutradarai film ini,
dimana telah membuatku kembali merasa
dekat dengan Islam yang indah, bersahaja
dan penuh dengan toleransi. Dan
terakhir, berkali-kali aku berucap
syukur kepada Ibuku yang telah berpesan
untuk membuat film tentang agama.
Sekarang aku mengerti, kenapa Kau
berpesan begitu Ibu. Tidak lain hanyalah
untuk membuatku selalu dekat dengan
Islam …
La haula wa kuwwata illa billahi …

Untuk lebih lengkapnya (Kisah di balik
produksi ayat-ayat cinta 2, 3 dan 4)
dapat dilihat di blognya Mas Hanung :

http://dearestmask.blogs.friendster.com/my_blog/

~ oleh kemazzz pada Maret 2, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: